‘ISYRUN FID DALA-IL (DUAPULUH IDE DALAM BENTUK THESIS)

Pertanyaan-pertanyaan dasar selalu saja mengalir dalam kehidupan dan tak pernah akan berhenti sedetik jua. Respon atas segala pertanyaan-pertanyaan dasar itu tidak selalu sama di antara sesama umat manusia dari satu ke lain zaman dan bahkan di zaman yang sama. Pembimbingan terbaikuntuk memecah kebuntuan yang disebabkan oleh pertanyaan-pertanyaan dasar itu tentulah Al-qur’an, Assunnah yang shahih, ilmu dan filsafat. Tentu saja ini juga tidak mungkin menjadi kesepakatan untuk semua umat manusia, dan Alqursif berusaha berada paling depan untuk pencarian jawaban terbaik itu.

  1. Kitab Suci Al-Quran itu adalah sumber keterangan yang paling Primer dalam ajaran Islam, dan satu persatu dari keterangannya bermuatan kebenaran yang authentik.
  2. Hadits-hadits Nabi Muhammad yang dipandang shahih itu tidak lain cuma merupakan sumber keterangan (Al-Bayan) yang bersifat Skunder.
  3. Konsep-konsep di dalam rumusan Filsafat dan Ilmu hanya berkedudukan sebagai alat pembantu dalam memahamkan dua sumber ajaran yang authentik itu. Dan sepanjang hakekatnya tidak mungkin bertentangan satu dengan yang lain.
  4. Hadits-hadits yang dinyatakan shahih itu, tidak semestinya diterima secara dogmatis. Bagaimana pun Perawi-perawi hadits itu tetap manusia biasa.
  5. Sekalian nash-nash yang bertentangan dengan Al-Quran , tidak dapat dijadikan sebagai argumentasi, kendatipun nash-nash tersebut dipandang sebagai hadits shahih yang populer.
  6. Penafsiran hadits-hadits shahih yang sejajar terhadap ayat-ayat di dalam Al-Quran, belum dapat diterima sebagai kebenaran mutlak, apabila penafsiran tersebut bertentangan dengan realitas (data dan fakta) kajian.
  7. Ajaran tentang Ijma’ dan Qias yang dijadikan sebagai sumber hukum dalam Ajaran Islam, bukanlah aturan-aturan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Akan tetapi cuma hasil Ijtihad pikiran dari pihak imam-imam agama (Fuqaha).
  8. Bagi siapa pun yang memperpegangi dua sumber tersebut sebagai dasar hukum, mestilah menerimanya seteliti mungkin agar menyesuaikan terhadap dua sumber pokok ajaran yang authentik itu.
  9. Pernyataan yang disimpulkan dari setiap Ijtihad, dipandang cuma sebuah pernyataan dari studi ilmu. Dan setiap orang mestilah menyadari bahwa studi ilmu itu bersifat relatif.
  10. Justru kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh tentang Tata Ubudiyah maupun Tata Mu’amalah yang telah menjadi ideologi sepanjang penalaran fiqih-fiqih Islam, perlu ditinjau kembali bagi menentukan kesimpulan yang lebih murni.
  11. Kitab Suci Al-Quran yang konkrit itu, bukanlah keadaan realitas dari kalam Ilahi. Akan tetapi merupakan image dari wujudnya yang hakiki agar dapat ditanggapi oleh intelek manusia.
  12. Suatu aspek dari kemunduran umat Islam itu, karena terlampau mengikat pikirannya kepada suatu paham tertentu, sehingga menutup keberaniannya dalam mengungkap-kan sesuatu tentang kebenarannya.
  13. Umat Islam itu ternyata telah mengalami kekeliruan dalam memahamkan Qodrat dan Iradat Tuhan, sehingga kekeliruan itu telah memukau pikirannya dari berkebebasan dalam memahamkan sesuatu yang terbentur pada pemikiran tersebut.
  14. Allah itu Maha Kodrat, dan memberikan hak kuasa kepada manusia melalui Qodrat-Nya itu. Dengan daya kerja otak manusia, lalu mempergunakan hak kuasa itu bagi menentukan posisinya sendiri.
  15. Kejadian alam semesta di dalam analisa Al-Quran, telah tersirat sebuah pernyataan tentang Hukum Kausalitas. Dan Sang Kodrat Yang Maha Tunggal itu menciptakan segenap sesuatunya berdasarkan Hukum tersebut agar alam semesta itu dapat dipikirkan oleh manusia.
  16. Setiap teks yang ditemui di dalam Al-Quran itu merupakan Guidensi (Hidayah) bagi manusia. Tidak satu pun dari setiap teks itu dibatasi dalam proses pemikiran manusia.
  17. Justru Al-Quran itu adalah sebagai bahan pemikiran bagi manusia dalam teks Bahasa Arab. Dan satu kata di dalam Bahasa Arab itu dapat dipasangkan kepada beberapa makna.
  18. Mengutuk pola pikir yang hanya terikat pada suatu paham tertentu. Karena bentuk pola pikir seperti itu nyata-nyata akan memukau pokok keyakinannya sendiri.
  19. Berbagai kritik yang diungkapkan dalam butir-butir thesis ini, dipandang suatu pokok keyakinan yang tidak dapat dipahamkan sepanjang fakta sejarah. Hal itu terjadi akibat para Mufassirin di dalam analisanya telah melepaskan diri mereka dari ikatan-ikatan Sains dan Teknologi di dalam membuktikan penafsirannya.
  20. Justru menanggapi keterangan Mufassirin yang dianut dari abad ke abad tanpa analisa yang teliti itu, dapat disamakan sebagai anutan Seseorang Christian terhadap diri Sang Paulus.

JS MANROE

This entry was posted in PROBLEMATIKA and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to ‘ISYRUN FID DALA-IL (DUAPULUH IDE DALAM BENTUK THESIS)

  1. 'nBASIS says:

    Dalil ke 20 itu perlu dijelaskan. Bagaimana maksudnya?

    ALQURSIF: ‘nBASIS mempertanyakan Thesis ke-20
    ‘Isyrun Fid Dala-il. Berikut jawaban saya:

    Teman saya facebook ‘nBASIS mempertanyakan maksud dari Thesis No.20 dari ‘Isyrun Fid Dala-il, yang berbunyi: “Justru menanggapi keterangan Mufassirin yang dianut dari abad ke abad tanpa analisa yang teliti itu, dapat disamakan sebagai anutan Seseorang Christian terhadap diri Sang Paulus”.

    Maksudnya: “Mufassirin (para pakar tafsir) itu adalah manusia biasa yang menjelaskan maksud dari ayat-ayat Al-Quran melalui susun pikirannya kepada seseorang yang belum memahami maksud ayat-ayat Al-Quran tersebut”. Al-Quran yang berbentuk satu jilidan buku itu, cuma terdiri dari setebal ± 1 inci, serta panjang 30 cm dan lebar 20 cm, apabila ditafsirkan oleh seorang Mufassir bisa berkembang menjadi belasan jilid buku. Jadi pekerjaan menafsirkan tersebut mustahil tidak mempergunakan akal. Contoh kecilnya, bahwa seorang khatib membahas sepotong ayat di atas mimbar jum’at, bisa menyerap waktu selama 30 menit. Tentu mustahil khatib tersebut tidak mempergunakan akal dalam mengulas sepotong ayat dimaksudkan.

    Kemudian keberadaan zaman pada Mufassir-A di tahun 1912 M. pasti jauh berbeda dengan keberadaan zaman Mufassir-A tersebut saat ia hidup di tahun 1987 M, yakni pertukaran zaman sepanjang 75 tahun. Apa lagi Mufassir yang hidup di era abad pertama hijriyah hingga saat ini sudah mencapai ± 15 abad lamanya. Justru kesimpulan pemikiran yang disampaikan Mufassir 15 abad yang lalu itu semestinya harus dikaji ulang kembali. Jikalau simpulan pemikiran tersebut masih tetap saja diakui tanpa berminat melakukan pengkajian ulang, maka sikap seperti itu dapat disamakan dengan sikap seorang Christian terhadap pendirian keyakinan Paulusnya.

    Sebagai contoh bahwa pokok keimanan yang harus diyakini oleh seseorang Christian adalah apa yang telah diajarkan Paulus pada Jemaat Asing di Asia Kecil, di Makedonia, di semenanjung Grik dan di semenanjung Italia yang tersimpul dalam 7 doktrin pada Surat-Surat Paulus (The Epistles) dalam Perjanjian Baru (The New Testament), yakni tentang:

    1. Dosa Warisan (Rm 5:12-18, 1 Kor. 15:21-26)
    2. Anak Allah (1 Kor. 8:6, Kol. 1:5, 1 Tim. 2:5)
    3. Inkarnasi (Gal. 4:4-5, Rm 1:15, Ibr.1:3)
    4. Penyaliban (1 Kor. 1:18-23, Rm 5:8, 1 Tim. 1:15)
    5. Penebusan (Rm 5:18, Rm 6:10-11, 2 Kor. 5:14)
    6. Kebangkitan (1 Kor. 15:17-20, 2 Tim. 2:8, Rm 6:4-18)
    7. Naik ke Langit (Ef. 1:19-20, Kol. 3:1)

    Tujuh pokok keyakinan itu ditutup oleh Paulus dengan sebuah doktrin, yakni “Divine Mysteries” (Semua itu adalah Rahasia Ilahi). Semua Rahasia Ilahi ini belum pernah diberikan Allah kepada siapa pun semenjak dunia ini tercipta, semuanya harus diimani dan tidak dibenarkan menyelidikinya melalui akal. (1 Kor. 2:1, Ef. 3:3-8, Kol. 1:25-26, Rm 16:26-26, 1 Kor. 2:14, 1 Kor. 1:23, 1 Kor. 1:18).

    Kendati pun Dunia Kristen hingga saat ini telah mengalami tiga garis aliran besar (Catholik, Reformasi dan Modernis), namun 7 doktrin di atas oleh sebahagian aliran tersebut tetap dipertahankan hingga saat ini. Begitu pun pada sebahagian aliran lainnya ditemui pula kontradiksi yang sangat tajam, seperti Aliran Modernis dari Jerman yang tampil dengan 65 thesisnya yang terkenal itu. Di antaranya, isi thesis no.27 sangat kontra sekali dengan isi doktrin ke-2 dari pokok keyakinan di atas, sebagai berikut :

    “The divinity of Jesus Christ is not proved from the Gospels. It is a dogma which the Christian conscience has derived from the notion of the Messias”.
    (Ketuhanan Jesus Kristus itu tidak dibuktikan dari himpunan Injil. Hal itu cuma sebuah dogma, di mana nurani seorang Kristen yang menyimpulkannya atas tanggapan tentang Al-Masih).

    Akibat diterbitkannya 65 Thesis dari Kaum Modernis ini menimbulkan kutukan yang amat keras dari pihak Catholik, sehingga 8 September 1907 Paus Pius X (1903-1914) mengeluarkan Ensiklike, berjudul “Pascendi Dominici Gregis”. Di antara isinya berbunyi: “That We should act without delay in this matter is made imperative especially by the fact that the partisans of error are to be sought not only among the Church’s open enemies; but, what is to be most dreaded in her very bosom, and are the more mischievous the less they keeping the open. ………….. It is one of the deverest devices of the Modernists (as they are commonly and rightly called) to present their doctrines without order and systematic arrangement…….”.
    (Kami harus bertindak tanpa terlambat dalam perkara ini, dan terlebih-lebih merupakan suatu keharusan, disebabkan kenyataan bahwa para peserta kesalahan itu bukan hanya dalam lingkungan musuh-musuh Gereja secara terbuka; tetapi, bahkan dalam tubuh Gereja sendiri, hal mana amat mengerikan dan menyedihkan, hingga akan tidak lebih membahayakan andai mereka bersikap terbuka …… Itulah sebuah di antara ragam upaya yang sangat cerdik dari kaum Modernist itu (demikian mereka itu disebutkan secara umum dan tepat) mengemukakan doktrin-doktrin mereka itu tanpa susunan yang tertib dan sistematik ……).

    Begitu utuhnya pendirian keyakinan kepada sebuah doktrin yang dirumuskan oleh Paulus, kendatipun jauh belakangan muncul keyakinan baru yang berbeda, tetap saja tidak dapat diterima karena setia terhadap kedoktrinan Paulus tersebut.

    Kaca perbandingan di atas dapat direnungkan seperti berikut: Jikalau seorang muslim itu memperpegangi rumusan-rumusan Mufassirin yang dianut dari abad ke abad tanpa analisa yang teliti, tentu dapat disamakan sebagai anutan Seseorang Christian terhadap pendirian doktrin yang dirumuskan oleh Paulus yang dianggap sebagai pimpinan tertinggi di dalam keagamaan mereka.
    Terimakasih dan semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s