HUKUM ROKOK DALAM SYARI’AT ISLAM

Pengantar

Hukum itu sepanjang rumusan Ilmu Ushul Fiqih adalah “Itsba-tu syai-in ‘ala- syai-in” (menetapkan sesuatu atas dasar sesuatu). Sesuatu yang menjadi dasar itu tidak lain tentulah merupakan “sumber hukum” yang sepanjang prakteknya tidak lari dari dua sumber authentik saja, dan apabila keluar dari dua sumber yang authentik tersebut, maka penetapan atas sesuatu itu dinyatakan sebagai “hasil pemikiran” (Al-Ijtihad).

Sumber pertama itu dikenal dengan Al-Quran, sedangkan sumber kedua dikenal pula dengan Al-Hadits. Tetapi kita harus betul-betul menyadari bahwa “kebenaran hakiki pada sumber pertama itu” terletak pada segenap teksnya semata, sedangkan pada saat melakukan “translit dan interpretasinya dinyatakan bersifat relatif”. Ini adalah sebuah kenyaaan yang faktual, di mana segenap pakar Al-Quran (Mufassirin) telah menyepakati tentang kemurnian Al-Quran, tetapi setelah tiba pada translitnya, apa lagi pada saat menginterpretasikannya, maka para pakar tersebut senantian tidak luput dari situasi kontradiksi pemikiran (Ikhtilaf).

Selanjutnya harus pula kita menyadari bahwa “kebenaran hakiki pada sumber kedua” terletak pada kepribadian Rasul saw itu sendiri (fi’ilnya, qaulnya atau taqrirnya), sedangkan segenap hadits yang sampai kepada kita sekarang ini adalah hadits-hadits dari hasil penyeleksian para muhadditsin setelah ± 2.5 abad sepeninggal Rasul saw. yang telah sempat pula mengalami malapetaka yang dahsyat sepanjang perjalanan sejarahnya. Sebagai catatan penting bagi kita bahwa Prof.DR.H.M.Hasbi As-Shiddieqy telah mencatatkan di dalam karyanya “Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadiets”, ed. 1955, terbitan C.V. Bulan Bintang, Jakarta :

  • Halaman 26 : “Menurut pengakuan Al-Chaliely dalam kitab Al-Irsyad bahwa partai Rafidhah telah membuat hadits palsu mengenai keutamaan Ali dan Ahli Bait sejumlah 300.000 hadits”.
  • Halaman 29 : “Diketika Abdul Karim Ibnu Abil ’Aujaa dihukum bunuh, telah mengaku secara terus terang telah membuat 4000 hadits dalam urusan halal dan haram”.

Kenyataan ini bermakna bahwa segenap hadits yang kita terima sekarang ini adalah himpunan hadits-hadits yang lulus pada hasil penyeleksian. Justru penting diketahui bahwa “segenap hasil penyeleksian itu dinyatakan bersifat relatif”.

Uraian di atas itu, jikalau kita terapkan kepada pengkajian tentang “Hukum Rokok”, tentu kita akan mencarinya dari dua sumber yang authentik, yakni : Al-Quran dan Al-Hadits. Itu pun harus dalil yang bersifat “qath’i”. Jikalau dalil tentang “Hukum Rokok” itu berbentuk dalil yang bersifat “Zhanni”, maka kita akan berhadapan dengan tiga kenyataan sbb. :

  1. Kita tentu telah terjebak ke dalam kondisi “Alam Penafsiran” setelah beranjak dari translit suatu ayat atau suatu sabda nabi.
  2. Kita tentu akan menemukan kesimpulan hukum yang bersifat “Hasil Ijtihad”, bukan “Hasil Istinbath”.
  3. Bermakna secara sadar atau tidak sadar bahwa kita telah berada pada “Hasil Kesimpulan Yang Relatif”.

Setelah kita memahami isi dari pengantar kata sehubungan dengan “Hukum Rokok” tersebut, maka berikut ini marilah kita telusuri secara tenang dengan berkepala dingin (jangan emosional), agar pengkajian kita tentang “Hukum Rokok” itu dapat kita simak dan kita hayati secara intensif, sehingga kita dapat menikmati Kesimpulan Hukumnya kendatipun dalam bentuk “Hasil Ijtihad”.

Hukum Rokok

Luthfi As-Syaukanie di dalam karyanya “Politik, HAM, dan Isu-Isu Teknologi dalam Fikih Kontemporer”, ed.I-1998 pada halaman 189 s.d 191 membahas tentang permasalahan rokok. Sebab secara umum telah diketahui bahwa di kalangan umat Islam sebahagian besarnya amat serius sekali menyoroti status hukum rokok yang mempunyai berbagai latar belakang penyebabnya. Ada yang betul-betul murni dari pemahamannya dalam menangkap pesan-pesan isyarat firman Ilahi dan sabda Rasul-Nya. Dan ada pula yang muncul saja secara mendadak, karena kondisinya sedang hangat-hangatnya disoroti orang, maka ia pun mengambil kesempatan pula mengomentari kedudukan hukum rokok tersebut.

Di pihak yang lain ada pula yang secara terburu-buru memutuskan ketetapan hukumnya, tetapi karena ia sudah berhenti merokok, sedangkan sebelum itu ia merupakan seorang perokok terulung tanpa sedikit pun pernah menyadari dan membicarakan status hukum rokok tersebut sepanjang masa kecanduannya itu

Apa yang kita saksikan dari uraian buku tersebut bahwa semua gambaran tentang ketidak bagusan merokok itu dalam bait-bait ungkapan tulisan itu adalah cuma bentuk gambaran tanggapan pikiran (pendapat atau pemikiran) semata dari semua orang (khususnya si Penulis buku tersebut). Dan tidak satu pun dalil yang qath’i dari Al-Quran dan Al-Hadits ditemukan dalam mendukung status hukum rokok dimaksudkan.

Saya tegaskan melalui naskah ini, bahwa pembahasan buku karya Luthfi As-Syaukanie tersebut adalah merupakan sebuah sample saja, di mana setiap buku manapun yang pernah tuan-tuan baca tentang “Hukum Rokok” itu pasti tidak pernah menampilkan dalil-dalil yang qath’i. Setiap pembahasannya hampir sama dengan lenggang lenggok yang dimiliki oleh buku karya Luthfi As-Syaukanie dimaksudkan. Artinya bahwa redaksinya saja yang berbeda, namun maksudnya adalah persis sama.

Pada alinea pertama (pada halaman buku yang saya maksudkan) diutarakan bahwa “dokter ahli kesehatan manapun sependapat bahwa merokok itu tidak sehat”. Jadi kalau cuma tidak sehat, samalah itu dengan status terlambat makan, minum air tidak teratur, bergadang di malam hari, sibuk bekerja kurang istirahat, dsb.

Dikatakan tidak ditemukan dalil qath’i itu, karena dalam buku tersebut hanya membuatkan sampel pada diri Ishak Baharom (Mufti Selangor) yang dilaporkan oleh harian The Straits Times (31-12-1996) bahwa “rokok hukumnya haram”. Keputusan ini dicetuskan beliau karena merujuk kepada keputusan Komite Fatwa Dewan Mufti Selangor yang dikeluarkan pada 7 Desember 1996, bukan kepada dalil Al-Quran dan Al-Hadits.

Malahan pada alinea terakhir pada halaman 189 itu dicatatkan bahwa “para ahli hukum fikih tidak sepakat menentukan status hukum rokok”. Pernyataan ini selaku bukti bahwa “ketentuan hukum rokok itu adalah bersifat khilafiyah”, dan selaku bukti pula tentang pernyataan kami bahwa “tidak ada ditemukan dalil qath’i tentang hukum rokok itu baik dari Al-Quran maupun dari Al-Hadits”.

Pada jalur khilafiyah itu ada tiga pandangan yang ditampilkan dalam buku tersebut, pertama, rokok itu hukumnya haram. Kedua, rokok itu hukumnya makruh. Ketiga, rokok itu hukumnya mubah.

Ketika mengemukakan pendapat alur pertama itu ditemui alasan tentang faktor kesehatan dan kesepakatan ahli medis. Adapun pendapat alur kedua ditemukan juga alasan faktor kesehatan, dan ditambah dengan faktor sosial dan ekonomi. Malahan ditegaskan lagi bahwa “kesemua faktor tersebut tidak sampai menjadikan hukum rokok haram”. Sedangkan pendapat alur ketiga beralasan kepada Kaidah Ushul, yakni “الأصل في الأشياء إباحة” (segenap sesuatu itu pada mulanya adalah mubah). Oleh karena rokok itu tidak pernah disebut-sebut secara resmi pada daftar haram dalam Al-Quran dan Al-Hadits, maka merokok itu hukumnya boleh saja. Malahan pendapat alur ketiga ini dicetuskan oleh Syekh Abdul Ghani Al-Nabulsi dan Syekh Husein Makhluf. Kedua tokoh ulil amri ini adalah mantan mufti di kota mesir.

Keputusan hukum rokok dari tiga alur pendapat yang dikemukakan di atas, tidak satupun kalimat yang kita temukan berdalilkan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits Nabi. Hal tersebut membuktikan tentang ketiadaan hukum yang qath’i dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits tentang kedudukan hukum rokok tersebut.

Berikutnya di halaman 190 ditampilkan pula pandangan dari Syekh Yusuf Qardawi dalam karya beliau “Al-Halal wa Al-Haram” dan “Fatwa Mu’ashirah” yang memberikan fatwa tentang “haramnya hukum merokok”. Dan ini pula yang menjadi pegangan Umar Thalib (alm), mantan anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah di Malang, yakni dalam sebuah tulisannya di majalah “Khazanah” bahwa mengkelaskan posisi tembakau sebagai salah satu unsur utama rokok kepada jenis yang dipandang “Al-Khabaaits”.

Pernyataan ini tidak lain adalah bentuk “pendapat” bukan dalil yang qath’i. Al-Qur’an sendiripun dalam mengemukakan sebutan “Al-Thayyibaat” dan “Al-Khabiitsat” (07:157) itu sangat terlampau umum. Apa lagi menyimpulkan “rokok” sebagai “khabits” itu cuma dari sudut berlebih-lebihan (ishraaf), serta mengaitkannya dengan menghambur-hamburkan harta sebagai hukum mubadzdzir, maka kalimat “menghambur-hamburkan” itu bersifat relative sebab rokok itu dibeli, bukan pula untuk dibuang secara percuma, tetapi dimanfaatkan untuk kesenangan secara psikologi oleh seseorang dalam kondisi yang tertentu.

Mengenai prediksi tentang bahaya rokok itu tentu berhubungan dengan kondisi masa yang akan datang. Jika ini persoalannya, maka bukan rokok saja yang memiliki prediksi bahaya yang akan datang itu, tetapi hampir setiap bahan kebutuhan hidup manusia. Gula misalnya, bisa menyebabkan penyakit kencing manis akibat melemahnya suatu fungsi peralatan tubuh manusia. Berfikir yang tajam pun bisa mengakibatkan gangguan pada saraf otak. Malahan mubaligh yang sibuk dalam menyampaikan risalah Allah itu pun akan mendapat tantangan penyakit dalam kehidupannya, apabila ia senantiasa mempergunakan sepeda motor dengan mundar mandir di arena kejauhan dari rumahnya untuk menyampaikan dakwah islamiyah itu. Jika konsep bahaya ini yang menjadi patokan, maka tidak cukup rokok saja yang diponiskan hukuman haram itu, tetapi hampir ditemukan banyak problema di sekitar aspek kehidupan manusia.

Padahal tentang hukum halal dan haram itu sudah ditemukan dalil secara qath’i, yakni : Al-Quran sudah menyebutkan hukum-hukum yang halal dan haram itu. Justru apa saja persoalan yang tidak dinyatakan hukumnya berkaitan dengan dua persoalan hukum diatas (halal dan haram), maka sesuatu itu dinyatakan “boleh dilakukan”.

Nabi Muhammad saw pun telah menegaskan  [tercatat dalam Sunan Abu Daud dari Ibnu Abbas (No.3306) sbb]:

كان أهل الجاهلية يأكلون أشياء ويتركون أشياء تقذرا. فبهث اللـه تعالى نبيه وأنزل كتابه وأحلّ حلاله وحرم حرامه. فماأحل فهو حلال وماحرم فهو حرام. وماسكت عنه فهو عفو وتلا : .

Masyarakat jahiliyah memakan segenap sesuatu, lalu menafikan pula segenap sesuatu karena menganggap kotor. Lalu Allah mengutus nabi-Nya serta memberikan ketetapan penting, di mana Allah sudah menghalalkan sesuatu, dan sudah pula mengharamkan sesuatu. Yang halal itulah halal, dan yang haram itu pula yang haram. Sedangkan sesuatu yang tidak disebutkan merupakan kebolehan.

Sambil nabi mendiktekan firman Allah : “Tegaskanlah wahai Muhammad, yang isinya bahwa “aku tidak menemukan suatu wahyu yang disampaikan kepada ku tentang hal yang diharamkan untuk dimakan oleh seseorang, kecuali bangkai, darah mengalir, daging babi atau hewan sembelihan di luar konsep Allah. Siapa yang terpaksa melakukan tanpa keinginan dan tanpa keterlanjuran, sungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun Maha Penyayang) QS. 6 Al-An’aam: 145.

Al-Bazzar dan Al-Thabraniy dari Abu Al-Dardak mencatatkan sbb:

ماأحل اللـه فهو حلال وماحرم فهو حرام. وماسكت عنه فهو عفو فاقبلوا من اللـه عافية فإن اللـه لم يكن ينسى شيئا .
(Apa yang dihalalkan oleh Allah, itulah yang halal. Dan apa pula yang diharamkan oleh Allah, itu pula yang haram. Sedangkan sesuatu yang didiamkan oleh Allah, itu merupakan kebolehan. Justru terima saja yang dimaafkan itu, dan hal tersebut bukan disebabkan kealfaan Allah).

Hadits ini dipungutkan oleh Drs.H.Abdul Mujib dalam “kaidah-kaidah Ilmu Fiqh, terbitan Kalam Mulia, ed. I-1994, hlm.26.

DR.Yusuf Qardhawi dalam karyanya yang terbesar “Hadyul Islam Fataawi Mu’aashirah” yang diterjemahkan dengan judul “Fatwa-fatwa Kontemporer” vol.I, ed. 1995, penerbit Gema Insani Press, Jakarta, telah mengomentari Hukum Rokok itu mulai dari hlm. 821 s.d 838 (± 18 halaman), namum tidak satu pun ditemukan di dalamnya bentuk hukum yang qath’i tentang rokok tersebut.

Malahan Qardhawi mengemukakan beberapa pandangan dari variasi golongan ulama sebagai dukungan terhadap pernyataan kami bahwa “penetapan hukum tentang rokok itu adalah bersifat Khilafiyah”. Beliau mengemukakan pertama, ada golongan yang menetapkan bahwa “Hukum Rokok” itu adalah “Makruh”. P.825. Kedua, ada golongan yang menetapkan bahwa “Hukum Rokok” itu adalah “Mubah”. P.826. Ketiga, ada golongan yang menetapkan bahwa “Hukum Rokok” itu adalah “Situasi”. P.825.

Untuk poin ketiga itu beliau mengemukakan penjelasan: “Sungguhnya tumbuhan ini (tembakau) pada dasarnya adalah suci, tidak memabukkan, tidak membahayakan dan tidak kotor (catatan pemakalah : “pernyataan Qardhawi ini mengandung kontradiksi yang amat tajam sekali dengan pernyataan Umar Thalib (alm), mantan anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah di Malang yang menyatakan bahwa tembakau itu adalah Al-Khabaaits”). Jadi, pada asalnya adalah Mubah :

  1. Barang siapa yang menggunakannya tapi tidak menimbulkan muderat pada badan atau akalnya, maka hukumnya adalah jaiz (boleh).
  2. Barang siapa yang apabila menggunakannya menimbulkan muderat, maka hukumnya haram, seperti orang mendapatkan muderat bila menggunakan madu.
  3. Barang siapa yang memanfaatkannya untuk menolak mudarat, semisal penyakit, maka wajib menggunakannya.

Ketiga butir uraian di atas dicatatkan pada hlm. 827. Malahan Al-Quran pun telah menegaskan tentang protes “hak menetapkan dua hukum (halal dan haram)” tersebut kepada Nabi Muhammad saw. Dalam QS. 10 Yunus: 59 berbunyi sebagai berikut :

(Katakanlah: “Kan sudah pernah kamu lihat, di mana rezki yang diberikan Allah kepada kamu, lalu kamu kelancangan memberi prediketnya, halal dan haram. Tegaskanlah: “Apakah Allah Telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah).

Dalam QS. 66 At-Tahrim: 1 Allah pernah mengkritik Nabi Muhammad saw. berkaitan dengan keberanian beliau memponiskan halal dan haram itu terhadap sesuatu, sebagai berikut :

(Hai nabi, Mengapa kamu berani mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; karena kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).

Catatan : Al-Bukhari (hadits No.4862) dan Muslim (hadits No.2694) meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw pernah mengharamkan dirinya minum madu untuk menyenangkan hati isteri-isterinya. Maka turunlah ayat teguran ini kepada beliau.

Penutup

Naskah ini disebarkan bukanlah bertujuan untuk menggiring orang agar tetap merokok, tetapi penyampaian naskah ini ingin meluruskan prediksi seseorang tentang menetapkan status hukum bagi rokok itu. Isi naskah ini bukan berkeberatan seandainya seluruh pabrik rokok itu ditutup, sehingga segenap orang di Negara ini jadi berhenti merokok. Yang menjadi persoalan di sini bukan “ merokok” atau “ tidak merokok”, tetapi jangan disimpulkan bahwa “hukum merokok itu adalah haram”.

Penetapan kesimpulan seperti ini adalah sikap keterlaluan bagi seseorang dalam kepintarannya, di mana Allah dan Rasul-Nya itu telah dipandangnya secara kealfaan dalam memberikan keputus-an hukum dalam Islam, sehingga rokok menjadi tercecer, luput dan lenyap tiada rimbanya. Akibatnya rokok tersebut tidak pernah diketemukan di dalam daftar paket-paket, apakah halal atau haram di dalam Al-Quran maupun Al-Hadits.

JS MANROE

This entry was posted in PROBLEMATIKA, RISET and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s