Mengenang 22 Tahun Perjalanan: GROUP DISKUSI ALQURSIF

Dengan ridha Allah, maka Sdr. J.S. Manroe, Sekretaris ALQURSIF telah berhasil  menyusunkan buah pikiran beliau yang pada pertemuan diskusi perdana telah kami sepakati bersama, yakni menyusunkan sebuah standard pola pikir dalam Group Diskusi ALQURSIF sejumlah 20 thesis yang beliau sebut dengan “’Isyrun Fid Dala-il”. Komentar via Facebook beliau sampaikan untuk mengenang 22 tahun berdirinya ALQURSIF (20 Juni 1988 s.d 20 Juni 2010).

Thesis-thesis itu sengaja beliau susunkan secara sistematis sebagai membantu gagasan Group Diskusi yang pada mulanya saya cetuskan kepada beliau. Dan atas berkat inayah dari Allah SWT dengan secara cermat beliau dapat menangkap inspirasi pikiran saya itu, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama telah dapat menyusunkan 20 buah thesis tersebut.

Sembilan orang putra Asahan pendiri “Group Diskusi Alqursif” itu pada mulanya merupakan ide-ide pemikiran belaka yang belakangan menjelma menjadi hasil karya nyata dari ISPA (Ikatan Solidaritas Putra-putra Asahan) yang dicetuskan oleh dua serangkai (J.S. Manroe, BA. Dan Mursito, BA), dan disosialisasikan secara resmi kepada tujuh sahabat lainnya (Drs.Syamsul Hanif, A.Malik Munir, BA., Bambang Sutejo, BA., Sunaryo, Syahrizal Manurung, Alfurqan dan Risan Noor) pada Minggu, tanggal 3 April 1988, pukul 21.15 WIB, di rumah sdr. Mursito, BA., jalan Utama simpang Gg.Umanat Medan. Dokumen tersebut ditulis tanggal 26 Maret 1988, dan tersimpan dalam Ardoka-001 Seri:PA.

Bentuk pengkajian pun aktif pula digiatkan yang dibimbing oleh seorang yang pakar dalam bidang kajian yang sedang dibahas. Pengkajian tersebut sempat terlaksana sebanyak dua kali dalam kurun usia Alqursif yang sedemikian singkat itu. Namun isi kajian itu tetap dapat direkrut seintensif mungkin, serta menyebarkan pokok-pokok yang dipandang prinsip kepada majlis-majlis ta’lim, baik di wilayah kotamadya Medan, maupun di luarnya.

Itulah aktivitas-aktivitas awal yang muncul akibat ransangan yang sensitif dari Postulat Dekrit 5 Juni 1988 (Deklinidelpan) yang akhirnya mewujudkan lahirnya ‘Isyrun Fid Dala-il (Duapuluh Thesis) yang sempat pula disiarkan secara terbuka kepada masyarakat kampus melalui “Jurnal Pers Kampus” Fakultas Ekonomi UMSU, ed. September 1988 hlm.24 dengan judul “Ummat Islam dan Zaman” oleh J.S. Manroe. Dan satu bulan berikutnya secara terbuka pula disiarkan kepada masyarakat umum melalui harian “Mimbar Umum” ed. Jumat, 7 Oktober 1988, hlm.6 dengan judul yang sama.

Gambaran umum dari isi 20 thesis itu, sejak dua bulan sebelum disiarkan telah dikomentari oleh Ketua Alqursif, Mursito, yang menegaskan dengan rencana pengadaan Laboratorium Al-Ankabut yang disiarkan lewat mingguan berita “Demi Masa” ed. III, Agustus 1988, hlm.4 di bawah judul “Surat Al-Ankabut Suatu Tinjauan Filosofis”.

Tersusunnya keduapuluh butir thesis itu pada prinsipnya diilhami oleh Postulat Alqursif yang terdiri dari : Deklinidelpan yang tersimpan pada Ardoka-001 Seri: Posta, Nenlasjudelpan yang tersimpan pada Ardoka-002 Seri: Alsentra dan Nemoktodelpan yang tersimpan pada Ardoka-002 Seri: Sketda. Keseluruhan Postulat yang menjadi ilham ini pada awal-awal pergerakan Grodissif (Group Diskusi Alqursif) lebih dahulu dikonsultasikan kepada beberapa orang senior dan bahkan lembaga keagamaan tertentu. Tetapi tak selalu sambutan bersahabat yang diterima.

Dengan begitu hukuman kucil yang dijatuhkan kepada Pendiri Alqursif ini dipandang sebagai sejarah yang sangat berharga, karena hukum tersebut bukan diputuskan oleh orang-orang awam, akan tetapi oleh kaum intelektual yang biasa dipanggilkan dengan Gerakan Reformasi dan Modernisasi dalam Islam. Gerakan tersebut ternyata telah berhasil mempengaruhi masyarakat di bawah kepemimpinannya agar tetap menafikan dan menghambat gagasan pengembangan pemikiran yang dikembangkan oleh Alqursif, yakni : Group Diskusi yang mendasarkan pokok-pokok analisanya kepada konsep-konsep di dalam Al-Quran dan Al-Sunnah berdasarkan penemuan-penemuan di bidang Ilmu pengetahuan dan pembuktian berdasarkan filsafat (susun pikiran yang logis).

Itu suatu catatan sejarah yang amat berharga, di mana suatu organisasi terbesar yang memberikan julukan terhadap identitasnya sebagai Gerakan Reformasi dan Modernisasi dalam Islam, tetapi belum siap menerima pokok-pokok pikiran yang bersifat Reformis dan Modernis secara kedewasaan. Group Diskusi yang termuda itu lebih dahulu dijatuhi hukuman kucil sebelum group tersebut diajak berdialog secara terbuka. Hal itu tidak lain adalah suatu keputusan yang kurang arif.

Dengan dikeluarkannya “Ensiklike” yang berutal itu, bukan mengakibatkan turunnya kepercayaan masyarakat kepada pokok-pokok pikiran Alqursif, akan tetapi semakin tinggi diminati oleh masyarakat, terutama di kalangan angkatan-angkatan Muda Muhammadiyah, masih saja tetap menginginkan agar kajian-kajian Alqursif itu tetap dianalisakan kepada mereka. Sedangkan secara umum di kalangan pihak yang dikategorikan “Al-Sunnah” bahwa ide-ide Alqursif itu masih tetap disambut dengan pemikiran yang jernih.

Keberadaan ini akhirnya menimbulkan kejengkelan di pihak pemimpin-pemimpin yang menginginkan terwujudnya keputusan dalam “Ensiklike” tersebut. Disebabkan Sekretaris Alqursif amat terikat kondisi perekonomian hidupnya kepada lembaga tempatnya bekerja, maka salah satu jalan bagi memadamkan gerakan Alqursif itu adalah melumpuhkan aktivitasnya melalui jalur dan kewibawaan lembaga itu sendiri.

Mursito Kabu Kasuda, Ketua ALQURSIF

This entry was posted in UMUM and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s