PERTANYAAN JAMA’AH TENTANG ROKOK

Pada suatu kesempatan dalam Majlis Ta’lim di suatu tempat, saya ditanya jamaah tentang Humum Rokok sbb.: “Kenapa Bapak J.S. Manroe sebagai ustadz kami di tempat ini masih aktif mengisap rokok, padahal MUI dan Muhammadiyah sudah mengeluarkan fatwanya bahwa Merokok itu hukumnya Haram”.

Lalu saya berjanji bahwa pada pengajian yang akan datang saya akan membahas permasalahan hukum rokok itu di hadapan tuan-tuan dan puan-puan, di mana isi komentar saya tentang hal tersebut sbb. :

Semenjak Nabi Muhammad SAW. diwafatkan pada tahun 633 M. sampai mendekati penghujung abad ke-20 M. di tahun 1912 (± selama 12 abad), telah lahir Muhammadiyah di Negara R.I. dan merupakan salah satu ORMAS Islam yang bergerak dalam bidang dakwah islamiyah. Menurut prediksi penulis bahwa semenjak tahun 633 s.d 1912 tersebut pengalaman Organisasi Muhammadiyah ini hampir dapat disamakan dengan zaman fitrah (era kekosongan) dari masa kenabian Isa sampai kepada masa kenabian Muhammad, sebab dalam masa ± 12 abad tersebut Muhammadiyah belum pernah mencetuskan ide-ide pemikirannya tentang hukum Islam seperti Himpunan Putusan Tarjihnya (HPT) yang populer hingga kini.

Kemudian lebih kurang 75 tahun berikutnya di tahun 1975 lahir pula Majlis Ulama Indonesia (MUI) di Negara R.I. dan merupakan salah satu ORPOL tempat berhimpunnya cetusan-cetusan pemikiran umat Islam di Indonesia dan menurut prediksi penulis bahwa MUI ini juga hampir dapat disamakan dengan zaman fitrah (era kekosongan) dari masa kenabian Isa sampai kepada masa kenabian Muhammad, sebab dalam masa ± 13 abad tersebut MUI juga belum pernah mencetuskan ide-ide pemikirannya tentang hukum Islam seperti Himpunan Fatwanya yang populer hingga kini.

Kenyataannya kedua organisasi Islam ini dalam kurun yang amat panjang itu belum pernah mengemukakan pokok-pokok pemikirannya tentang suatu hukum karena keduanya memang belum dilahirkan ketengah-tengah umat ini.

Tetapi setelah kedua organisasi ini lahir di Bumi Indonesia banyak sekali mengeluarkan fatwa-fatwa hukum Islam yang terhimpun dalam sebuah catatan resmi (dikenal sebagai HPT di lingkungan Muhammadiyah, dan dikenal sebagai Himpunan Fatwa di lingkungan MUI).

Sehubungan dengan pokok pembahasan topik naskah ini, sampai kepada tahun 2004 (92 tahun) tidak pernah ditemukan di dalam HPT itu ungkapan fatwa tentang “hukum rokok”. Tetapi pada tahun 2005 Muhammadiyah mulai tersentuh kearah pengkajian terhadap kondisi rokok tersebut serta mengeluarkan fatwanya bahwa “Hukum Rokok itu adalah Mubah”. Malahan setelah berjarak lima tahun berikutnya pada tahun 2010, melalui Majelis Tarjihnya Muhammadiyah kembali menggeser putusan fatwanya tersebut bahwa “Hukum Rokok itu adalah Haram”, yakni aktivitas merokok itu dari “Hukum Mubah” menjadi “Hukum Haram”.

Dari problema yang dimunculkan pada tulisan di atas, maka kita dapat menarik suatu kesimpulan:

  1. Nabi Muhammad SAW. resmi dinobatkan sebagai Rasul Allah pada 610 M., dan diwafatkan pada 633 M., bermakna bahwa selama 23 tahun itu Nabi Muhammad SAW. telah selesai secara sempurna menyebarkan Ajaran Islam kepermukaan dunia ini, dan diperkukuh oleh firman Allah dalam QS. Al-Maidah 5:3.
  2. Kesimpulan pertama di atas itu merupakan suatu data-data konkrit (Ayaatin Bayyinaatin) kepada kita bahwa “Di dalam Al-Quran dan Al-Hadits pasti tidak pernah ditemukan tentang Hukum Rokok itu secara Qath’i”, dan akibat itulah MUI dan Muhammadiyah baru dapat menetapkan fatwanya tentang “Haramnya Hukum Rokok” tersebut pada tahun 2010, yakni menyita waktu selama ± 15 abad lamanya. Sebab, seandainya di dalam Al-Quran dan Al-Hadits itu telah ada ditemukan hukum yang qath’i tentang “haram rokok”, maka MUI dan Muhammadiyah itu dipastikan tidak akan mengeluarkan fatwanya itu di tahun 2010.
  3. Dari kesimpulan yang nomor dua tersebut dapat pula diyakini bahwa “Sesungguhnya fatwa MUI dan Muhammadiyah tentang Haram Rokok tersebut tidak lain adalah Hasil Keputusan Ijtihad” semata, dan tentu bersifat relatif (nisbiyah) bukan bersifat absolut (muthlaqiyah). Dikatakan relatif (nisbiyah), karena kemungkinan besar beberapa tahun berikutnya akan berubah lagi keputusan ijtihad ini, boleh jadi menjadi Wajib Merokok atau menjadi Sunnat Merokok.
  4. Makalah ini disampaikan karena ada rasa keinginan tentang jelasnya hukum, sehingga tulisan ini sebagai suatu anjuran : Pertama, seandainya dirasakan bahwa merokok itu agak mengganggu kesehatan, lebih baik berhenti merokok daripada dilanjutkan merokok. Kedua, seandainya dirasakan pula bahwa merokok itu tidak mengganggu kondisi fisik, maka terserah pada pribadi masing-masing, apakah berhenti merokok atau berkelanjutan merokok. Ketiga, berhenti atau berkelanjutan merokok itu adalah sikap dari hasil pemikiran kita. Justru jangan sekali-kali memberikan ponis tentang hukum rokok tersebut, karena penetapan hukumnya secara data konkrit tidak ditemukan di dalam Al-Quran maupun di dalam Al-Hadits.
  5. Jikalau diperpegangi hukum “Haram Rokok” itu disebabkan ia menyimpan “muderat yang besar”, maka pada era kekinian tentu banyak sekali yang harus difatwakan dengan hukuman “haram” tersebut oleh para mufaqqihin kita. Antara lain : Pertama, sering sekali diketahui dari laporan media massa bahwa kebakaran dahsyat dan sekaligus menyebabkan cederanya orang-orang yang tidak berdosa di sekitar kejadian adalah faktor terjadinya ledakan kompor gas. Justru mempergunakan kompor gas itu hukumnya adalah haram. Kedua, Lalu pada akhir-akhir ini, sering sekali terjadinya bahaya yang sangat mengerikan akibat jatuhnya pesawat udara penumpang, dan terkadang jatuh pada lokasi yang sukar ditemukan korbannya sehingga perusahan yang bersangkutan harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Justru berpergian dengan mengenderai pesawat udara itu hukumnya adalah haram. Ketiga, Hampir setiap orang-orang yang kaya itu tidak cukup memiliki di rumah tangganya satu mobil saja, melainkan lebih dari lima mobil. Hal tersebut menyebabkan sesaknya daya tampung jalan raya, khususnya di kota-kota besar, sehingga sangat mengganggu jalannya arus lalulintas setiap hari kerja. Justru memiliki lebih dari satu mobil pada suatu rumah tangga hukumnya adalah haram. Keempat, Bahaya rokok itu biasa pula dikaitkan terhadap orang-orang di sekitar perokok, dan biasa disebut dengan “perokok pasif”. Tapi sangat kurang disadari bahwa asap anti nyamuk yang dipasang di ruangan di rumah tangga bukan hal yang tidak membahayakan kepada anggota keluarga, bahkan sangat berbahaya sekali. Justru seharusnya bahwa anti nyamuk itu pun hukumnya adalah haram. Kelima, dan lain-lain sebagainya, bahkan hampir semua jenis makanan yang kita nikmati setiap harinya tidak luput dari pencemaran olahan kimiawi yang berefek buruk terhadap kesehatan manusia. Justru dewasa ini sangat sukar mendapatkan makanan yang halal, sebab makanan-makanan tersebut hampir mendekati angka 100% haram.

JS MANROE

This entry was posted in UMUM and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to PERTANYAAN JAMA’AH TENTANG ROKOK

  1. kopral cepot says:

    Alhamdulillah dapat pencerahan yang sistematik ..

    Hatur tararengkyu😉

    ALQURSIF: Terimakasih atas kunjungan dan penghargaannya ya pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s