TINJAUAN KEKINIAN TENTANG PERISTIWA ISRAK DAN MI’RAJ

Oleh: JS Manroe

Peristiwa Israk dan Mi’raj Nabi Muhammad saw itu pasti benar terjadi di masa beliau masih hidup, karena telah ada diungkapkan di dalam Al-Quran dan Al-Hadits yang merupakan sumber asasi pokok Ajaran Islam. Tetapi sepanjang prakteknya bahwa kedua pokok sumber ajaran tersebut mengalami perbedaan posisi yang amat tajam sekali, karena tentang mulusnya jalur lintasan keduanya di dalam fakta sejarah mengalami dua kutub yang berlainan.

Posisi yang paling prinsip dari keduanya yang harus disadari oleh umat Islam, bahwa Al-Quran itu telah selesai dikodifikasi di zaman Khalif Utsman bin Affan, khalif keempat itu, dan para hafizh Al-Quran pun masih banyak pula ditemukan pada saat itu, sehingga akan mustahil di Era Kekinian (Era Kontemporer) sekarang ini bahwa copian dari Mushhaf Utsman tersebut akan mengalami perubahan teks ataupun isinya oleh rekayasa negatif dari kerja tangan manusia yang zalim kepada Allah.

Posisi keterangan Al-Hadits di sisi Al-qur’an

Berbeda posisinya dengan Al-Hadits Nabi Muhammad saw, karena masa awal sekali dalam perjalan hadits itu sudah mendapat protes keras dari nabi sendiri untuk mencatatkannya. Malahan ditambah pula dengan situasi dan kondisi kekalutan dunia politik pada saat itu, sehingga menimbulkan nasib yang sangat malang sekali terhadap posisi Al-Hadits tersebut, karena menurut catatan dari fakta sejarahnya bahwa Al-Hadits itu secara besar-besaran banyak sekali direkayasa tentang pemalsuannya oleh orang-orang yang berkepribadian zindiq tersebut. Lebih kurang dua abad sepeninggal Nabi Muhammad saw barulah Al-Hadits itu dibukukan oleh para muhadditsin, seperti Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nisai, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lainnya.

Harus dipahami betul bahwa Al-Hadits yang dibukukan itu adalah hasil penyeleksian dari pihak para perawi yang disebutkan di atas pada era sejauh ± 2 abad itu. Sedangkan pendirian bagi menentukan syarat-syarat keshahihan suatu Al-Hadits tersebut adalah syarat-syarat yang dibikin sendiri oleh para muhadditsin, dan belakangan dibakukan pula sebagai sebuah disiplin ilmu, hingga kini dikenal dengan sebutan “Ilmu Mushthalah Al-Hadits”.

Dari kenyataan sejarah (The Historical facts) di atas dapatlah digambarkan  dengan pernyataan bahwa :

  • Kebenaran yang pasti dari Al-Quran itu adalah terletak pada keseluruhan teksnya saja, sedangkan translit (terjemahan) dan interpretasi (penafsiran) dari Al-Quran itu bersifat relatif (nisbi atau boleh jadi benar dan boleh jadi keliru). Justru metode satu-satunya yang harus dilakukan oleh umat Islam untuk memahami Al-Quran itu harus betul-betul menyadari bahwa “Al-Quran itu adalah informasi dari Allah tentang keberadaan Alam ini, atau keberadaan Alam ini telah diinformasikan oleh Allah di dalam Al-Quran. Justru, siapa pun yang berminat untuk mentranslit dan menginterpretasikan Al-Quran itu secara benar, maka ia harus mentranslit dan menginterpretasikan Al-Quran itu berdasarkan Alam yang sedang diinformasikannya tersebut”.
  • Kebenaran yang pasti dari Al-Hadits itu adalah terletak pada Qaul (sabda) yang betul-betul keluar dari mulut Nabi Muhammad atau Fi’il (perbuatan) yang betul-betul dilakukan oleh beliau atau Taqrir (pengukuhan) dari beliau pada masa beliau masih hidup. Adapun hadits-hadits beliau yang ditemukan dan dibukukan pada era sejauh ± 2 abad itu hingga sekarang ini bersifat relatif (nisbi atau boleh jadi benar dan boleh jadi keliru). Justru metode satu-satunya yang harus dilakukan umat Islam untuk memahami Al-Hadits itu harus betul-betul menyadari bahwa “Al-Hadits itu adalah Qaul, Fi’il dan Taqrir Nabi Muhammad yang tidak pernah disaksikannya secara langsung. Dan seluruh hadits-hadits yang telah ditemukan dan diterimanya sekarang ini adalah melalui para Perawi yang sengaja membukukannya berdasarkan hasil penyeleksian nalar mereka. Oleh karena Al-Hadits itu merupa-kan penjelasan terhadap Al-Quran, sedangkan Al-Quran adalah informasi tentang Alam, maka setiap keterangan Al-Hadits itu pun harus sejajar dengan Alam yang sedang diinformasikannya.
  • Mari dimisalkan bahwa seorang mufassirin itu ingin mengungkapkan masalah Israk dan Mi’raj Nabi Muhammad saw yang dikisahkan di dalam Al-Quran dan Al-Hadits, maka mufassir tersebut harus terlebih dahulu mendudukkan sebuah “Alas Pikiran” bahwa “Nabi Muhammad pernah melakukan suatu perjalanan dari Masjid Al-Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsha di Palestina dengan menempuh jarak perjalanan sejauh ± 750 Mil (perhitungan ini didasarkan kepada ATLAS INDONESIA DAN DUNIA, terbitan LINTAS MEDIA, Jombang, ed. 2003, hlm.34 di bawah judul “BENUA ASIA” dengan Skala 1:6000.000, di mana jarak Makkah dan Jerussalem itu sejauh 2 cm). Lalu dari Masjid Al-Aqsha itu beliau melanjutkan perjalanannya ke angkasa luar menuju Sidrat Al-Muntaha, suatu tempat yang tidak disebutkan lokasinya secara terperinci di dalam Al-Quran, tetapi sudah dapat digambarkan bahwa jauh perjalanan itu mencapai milyaran mil”.

    Dimisalkan saja Nabi Muhammad itu melintasi orbit Planet Pluto, jaraknya dari Planet Bumi ini ± 39 A.U., demikian Beryl E.Clotfelter dalam “The Universe and Structure”, ed.1976, P.51 (39 kali jarak Bumi ke Matahari sejauh 93.000.000 mil = 3.627.000.000 mil), atau kemungkinan besar beliau juga sampai melintasi orbit Planet Sedna, yakni planet terakhir di wilayah Solar System kita yang baru ditemukan pada tgl. 14 Nopember 2004 oleh Prof..Michael Brown dkk. yang berjarak dari Planet Bumi sejauh ± 17.000.000.000 Km., yakni dengan meminjam catatan “Buku Kerja Muhammadiyah Tahun 1992, hlm.57, bahwa 1 Mile = 1.6 Km., maka jarak 17.000.000.000 Km itu = ± 10.625.000.000 Mile atau ± 114 A.U. Dan dimisalkan pula Nabi Muhammad itu tanpa beristirahat di Sidrat Al-Muntaha, lalu meluncur kembali turun ke Planet Bumi yang secara pasti tentu akan melintasi orbit Planet Sedna itu, maka dapat digambarkan bahwa perjalanan Nabi Muhammad saw tersebut melebihi jarak 10 milyard mil ke Luar Angkasa.

    Buraq itu apa?

    Hampir di setiap uraian yang berhubungan dengan peristiwa Israk dan Mi’raj itu tetap saja ditemukan pendirian bahwa “kenderaan yang dipergunakan nabi dalam menempuh jarak yang sedemikian panjang itu adalah Buraq”, yakni seekor hewan yang kecepatan daya tempuhnya mirip dengan kecepatan kilat, dan disebabkan itulah hewan tersebut dipanggilkan dengan Buraq (sebuah kata yang berakar dari kata Barqun, yakni Kilat).

    Jikalau ini alas pikirannya, nampaknya mufassir itu tidak memahami kondisi alam yang berhubungan dengan “kilat” (barqun), karena kilat itu cuma suatu gejala alam yang ditimbulkan dari tubrukan udara di angkasa yang menyebabkan terjadinya benturan berbagai jenis atom, sehingga menimbulkan api. Api itu yang terlihat dari permukaan Bumi diberi nama dengan “Kilat” (Barqun atau The Flash). Atau mungkin yang dimaksudkan mufassir itu adalah kecepatan “Cahaya” (The Light) yang dimunculkan oleh “api” tersebut, sehingga kecepatan Buraq itu sama dengan kecepatan “Cahaya”. Jikalau ini pula yang menjadi alas pikirannya, maka berdasarkan rumusan fisika tentu akan berlawanan dengan isi QS. 17:01, bahwa “kenderaan Buraq itu akan menggagalkan perjalanan Nabi selama satu malam saja dalam peristiwa Israk dan Mi’raj tersebut (alladzi asra bi ‘abdihi lailan atau Allah yang mengisrakkan Muhammad itu cuma satu malam saja). Dan apabila dikaitkan dengan keterangan Al-Hadits bahwa nabi itu diberangkatkan pada sepertiga malam terakhir, dan tiba kembali di Bumi masih dalam kondisi malam menjelang shubuh.

    Mari dimisalkan nabi Muhammad berangkat Israk dan Mi’raj itu pada jam 02.00 dini hari, dan beliau kembali pulang dan tiba di Bumi pada jam 04.45 menjelang Shubuh, maka perjalanan Nabi itu cuma memakan jarak waktu 2 jam 45 menit (PP). Tetapi jikalau diperpegangi kenyataan jarak antara Planet Bumi dan Planet Sedna di atas, lalu dikomfirmasikan kepada Kecepatan Cahaya yang cuma berkisar 8 menit dari Matahari ke Planet Bumi sejauh 93.000.000 mil itu, maka sudah barang tentu untuk menuju Planet Sedna saja, Cahaya itu akan menempuh perjalanan ± 912 menit (114 A.U. x 8 menit). Seandainya pula Nabi kembali meluncur ke Planet Bumi tanpa beristirahat di Planet Sedna, maka waktu jarak tempuh itu tentu menjadi ± 1824 menit (2 x 912 menit), atau ± 30 jam. Dari jumlah perhitungan waktu ini memperlihatkan suatu kenyataan bahwa Nabi tidak benar tiba di Planet Bumi pada jam 04.45 menjelang Shubuh, tetapi kenyataannya Nabi telah menempuh perjalanan selama 2 setengah hari lamanya. Seandainya Nabi berangkat pukul 02.00 dini hari pada tgl. 27 Rajab sH, yakni dengan menempuh perjalanan selama 30 jam itu, tentu beliau tiba di Masjid Al-Haram pukul 08.00 pagi pada tgl. 29 Rajab sH., yakni ± 2 hari 6 jam. Itupun bila di ukur bahwa kepergian Mi’raj nabi itu ke Planet Sedna. Bagaimana jika beliau benar-benar Mi’raj ke Sidrat Al-Muntaha lebih jauh lagi melintasi orbit Planet Sedna, tentulah Nabi sampai di Bumi melebihi satu minggu lamanya.

    Pada sisi lain tentu menimbulkan tanda tanya besar terhadap perwujudan Buraq yang dinyatakan sebagai seekor hewan itu, dan dalam sebuah hadits (HR. Ahmad dari Anas ibn Malik), bahwa:

    Buraq itu seekor hewan kenderaan nabi Muhammad melakukan Israk dari Masjid Al-Haram, setelah tiba di Bait Al-Maqdis, beliau menambatkan Buraq itu di sebuah halaqah (sebuah tonggak tempat para nabi menambatkan hewan kenderaannya di situ), kemudian nabi pun Mi’raj ke angkasa besama Jibril, bukan dengan Buraq.

    Di situ timbul tanda Tanya : “Hewan apakah Buraq itu. Hewan yang berkembang biak di Planet Bumi atau Hewan yang berkembang biak di Angkasa Luar”. Jika dikatakan Buraq itu hewan bumiawi, sampai saat ini di kalangan para Antropolog tidak pernah menemukan hewan yang berjenis Buraq itu. Hewan Dinasaurus sejauh jutaan tahun yang lalu telah ditemukan posil-posilnya, tetapi hewan Buraq sejauh 15 abad yang lalu saja tidak satu pun posil-posilnya ditemukan sampai dewasa ini.

    Dan jika dikatakan pula Buraq itu hewan samawi, tentu akan menjadi lelucon yang amat menggelitik pemikiran, yakni : “Kenapa hewan Buraq samawi (Buraq hewan langit) itu tidak dijadikan sebagai tunggangan Nabi mengharungi Angkasa Luar, padahal itu tentu lebih praktis dilakukan dalam Mi’raj. Tetapi kenyataannya hewan Buraq itu cuma ditambatkan di Bait Al-Maqdis. Nabi hanya berangkat bersama Jibril ke Angkasa Luar, sedangkan Buraq hewan samawi itu ditinggalkan di Bumi”.

    Kenyataan ini membuktikan bahwa “Kenderaan Nabi Muhammad dalam perjalan Israk dan Mi’raj itu tidak betul dengan mengenderai hewan Buraq, dan segenap hadits-hadits yang berhubungan dengan kenderaan hewan Buraq itu harus dipertanyakan tentang keshahihannya”. Ketidak shahihan suatu hadits itu bisa kemungkinan disebabkan hasil rekayasa orang dalam menciptakan sebuah kisah dongeng tentang Israk dan Mi’raj nabi. Dan bisa kemungkinan pula akibat kealpaan para penyeleksi hadits, sehingga hadits hasil rekayasa itu lulus dari sensoran seleksi, sehingga berkembang subur menjadi keyakinan umat Islam berabad-abad lamanya, dan sangat sukar kembali untuk membersihkan dan memurnikannya.

    Al-Quran sendiri telah mengkisahkan keberangkatan Nabi tersebut dalam perjalanan Israk dan Mi’raj itu hanya dengan mempergunakan kalimat “Al-ladzi ba-rakna hawlahu” (yang telah Kami persiapkan barkah di sekeliling beliau) pada QS. 17:01. Dengan memperhatikan jauhnya kondisi jarak perjalanan segi tiga itu (dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha, lalu dilanjutkan ke Sidrat Al-Muntaha, kemudian kembali lagi ke Masjid Al-Haram) yang tidak mungkin ditempuh melalui kecepatan cahaya dalam kondisi waktu yang sedemikian singkat itu (± pukul 02.45 dini hari s.d pukul 04.45 sebelum Shubuh), maka diduga dengan mendekati kebenaran bahwa “tenaga barkah itu tidak lain adalah sejenis kekuatan energi tingkat tinggi yang melebihi dari kecepatan cahaya”.

    Dr.Feiberg dari Amerika Serikat, seorang ahli dalam bidang Atomic Energy (tenaga atom) pada tahun 1970, ketika mengadakan risetnya di dalam laboratorium penelitian atom itu telah menemukan suatu unsur yang bergerak amat cepat melebihi kecepatan cahaya, dan beliau memberi nama kepada unsur tersebut dengan “Tachion”. Dengan adanya unsur partikel Tachion dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya tersebut, kemungkinan besar energi yang dimilikinya itu telah dimiliki oleh Jibril a.s., sehingga ia dapat membonceng Nabi Muhammad dalam lingkupan energi tersebut untuk menempuh segitiga lokasi itu dengan waktu yang relatif singkat.

    Energi Tachion yang seperti ini, mungkin pula pernah dipergunakan oleh seorang ahli pembukuan (‘ilmun min al-kitab) pada zaman Nabi Sulaiman berkuasa (1048-933 sM), yakni ketika beliau menawarkan kemampuannya untuk memindahkan takhta (al-‘Arsy) Ratu Balqis (The Queen of Sheba) dari negeri Yaman ke Palestin, di mana lokasi kekuasaan Nabi Sulaiman berada. Jikalau gerak “kedipan mata” itu sama dengan “kecepatan cahaya”, maka untuk pemindahan Takhta Balqis itu telah diprediksikan mampu melebihi kecepatan cahaya tersebut, sehingga Al-Quran dalam 27:40 mencatatkan tawaran ahli pembukuan itu kepada Sulaiman dengan kalimat : “Ana- a-ti-ka bihi qabla an yartadda ilaika tharfuka” (saya mampu menghadirkan takhta Balqis itu ke hadapan tuan sebelum mata tuan berkedip).

    Dr.Kojan dari sebuah Lembaga Elektronika di Moskow, berhasil meneliti tentang energi murni yang dapat dimunculkan dari tubuh manusia yang kekuatannya “lima kali dari kekuatan gelombang listrik” yang bisa dipergunakan dalam berkomunikasi jarak jauh. Energi ini pun sangat mengkagumkan sekali, sehingga pada sisi lain beliau memberikan sebuah kesimpulan yang oleh Ir.Abdul Razaq Naufal sengaja memungutkan ungkapan beliau itu di dalam karya terbesarnya “Yaum Al-Qiyamat”, halaman 80-81 sebagai berikut :

    Inna ha-dzihi at-Thaqah al-lati yastathi-‘ul insa-nu biha an yanqila fikrahu ila- ghairihi …… Idz tantaqilul afka-ru bisur’atil kahraba-i … Fala- budda annaha takhtashshu bi ‘amalin … wa ‘amalin kabi-rin wa rahi-bin … wa liannal insa-na lam yalhazh fi nafsihi ha-dzihil kahraba-a” (Sebenarnya kekuatan energi ini bisa memberi kemampuan pada manusia untuk memindahkan pikirannya kepada pemikiran orang lain …. Ketika itu segenap pikiran akan berpindah dengan kecepatan listrik …. Pastilah bahwa kekuatan energi ini tertentu untuk suatu fungsi …. Yakni suatu fungsi yang amat besar dan yang amat menakutkan …. Tetapi sayang sekali bahwa manusia itu tidak pernah meneliti, di mana listrik ini ada di dalam tubuhnya sendiri).

    Sebuah Asumsi Awal

    Barangkali Nabi Muhammad telah memiliki kekuatan energi ini di dalam fisiknya, akibat beliau sempat berbulan-bulan lamanya pernah berkhalwat di Gua Hira sebelum wahyu diturunkan kepadanya. Energi ini beliau temukan sebab telah berhasil melatih dirinya dalam mengkonsentrasikan pikiran dalam khalwat itu, sehingga dapat menyusun bion-bion listrik yang membangun fisik beliau. Kondisi inilah barangkali bergabung dengan bion-bion listrik yang dimiliki oleh Jibril a.s. dalam situasi keberangkatan Israk dan Mi’raj tersebut, sehingga Nabi Muhammad sebagai wujud materi itu mampu bertahan dan selamat di angkasa luar dan di dalam perjalanan yang berkecepatan tinggi itu hingga sampai kembali ke Masjid Al-Haram.

    Proses daya tahan dan keselamatan materi tanpa hambatan itu telah terbukti pula dari hasil penelitian kaum spritualisme pada saat mereka meminta agar dihadirkan buah-buahan segar dari daerah khatulistiwa ke dalam sebuah ruangan tertutup tempat mereka mengadakan penelitian. Prof.Johan Karl Frederich (1934-1992) bersama sarjana-sarjana Jerman lainnya di Leipzig dalam sebuah Séance (majlis pemanggil arwah) mendudukkan seorang medium (seorang yang berkemampuan memanggil arwah) di atas sebuah kursi. Pada saat beliau tidak sadarkan diri, terjadilah dialog terhadap Spirit yang diundang di arena Séance tersebut. Isi dialog itu sebagai berikut :

    • Tanya: Dapatkah anda membawakan sesuatu dari luar ke  dalam ruangan tertutup ini ?
    • Jawab: Dapat.
    • Tanya: Walaupun dari jarak jauh ?
    • Jawab: Ya, dapat.
    • Tanya: Bisakah anda membawa kehadapan kami sejenis tumbuhan dari daerah Khatulistiwa.
    • Jawab: Pasti bisa.
    • Tanya: Berapa lama kami menunggunya ?
    • Jawab: Tidak lama.
    • Tanya: Berapa lama ?
    • Jawab: Sebentar sekali.

    Sungguh tak lama berselang setangkai buah segar dari daerah khatulistiwa pun mendadak muncul di hadapan mereka. Dan satu persatu dari mereka melakukan penelitian atas gagang buah-buahan segar tersebut, dan realitas buah-buahan itu tidak diragukan eksistensinya. Lalu para sarjana-sarjana tersebut melemparkan dialog kembali, sebagai berikut :

    • Tanya: Bagaimana anda bisa membawa buah bersama-sama gagang dan daunnya pada saat melintasi dinding tembok ruangan ini ?
    • Jawab: Oh, bagi kami di alam arwah tidak ditemukan pengertian dinding tembok dan batas.
    • Tanya: Bagaimana pula anda dapat menempuh jarak ke daerah khatulistiwa itu pulang-pergi dalam tempo sesingkat itu ?
    • Jawab: Bagi kami di alam arwah tidak ditemukan pengertian jarak. Kami langsung tiba pada suatu tempat setiap kali terpikir untuk pergi ke tempat itu.

    Peristiwa dialog di atas sengaja dimuat oleh Yoesoef Sou’yb di dalam tulisan beliau yang berjudul “Israk-Mikraj Dari Sudut Permasalahan Tanggapan dan Benda dan Jarak”, dan beliau memungutkan dialog tersebut dari ungkapan Syeikh Thantawi Jauhari (mantan Rektor Universitas Al-Azhar di Kairo) dalam bukunya yang berjudul “Kitab Al-Arwah”. Di Inggeris juga ditemukan lembaga ilmiah serupa itu, bernama “British Society for Psychical Research”, sedangkan di Amerika Serikat bernama “American Society for Psychical Research”.

    Dari isi dialog-dialog para sarjana Jerman dalam Seance terhadap Spirit dari Medium percobaan itu dapat disimpulkan bahwa “suatu materi (benda padat), apabila ia sudah didampingi oleh Kodrat Gaib (arwah, malaikat, dan lain-lainnya), maka perwujudan materi itu akan kehilangan hukum-hukum wujud, batas dan jarak sepanjang Fisika”.

    Nabi Muhammad saw wujudnya adalah materi (syahadah), sedangkan Jibril a.s. wujudnya adalah non-materi (ghaib). Pada saat keduanya berdampingan dalam perjalanan Israk dan Mi’raj itu, maka Nabi Muhammad saw telah kehilangan hukum-hukum Fisika. Beliau sebagai manusia biasa (basyar) seharusnya mempersiapkan terlebih dahulu sebuah pesawat antariksa seperti Challenger yang dilengkapi dengan kapsul berisi oxygen untuk bisa bernapas di angkasa luar yang hampa udara itu. Tetapi sepanjang kenyataannya bahwa Nabi Muhammad saw telah selamat tanpa cedera dan tidak mati di angkasa luar, dan selamat sampai kembali ke bumi di Masjid Al-Haram. Semua itu membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw itu telah kehilangan hukum-hukum yang berlaku sepanjang Fisika, karena di dalam perjalanan Israk dan Mi’raj tersebut beliau telah didampingi oleh malaikat Jibril a.s. sebagai perwujudan gaib itu.

    Yang menjadi tanda tanya : “Apakah Nabi Muhammad pada saat awal beranjak Mi’raj itu telah menglumer (meleburkan diri), dan setelah turun ke bumi mewujud benda kembali seperti sedia kala ? Wallahu a’lam bi shshawwab, masih belum ditemukan pembuktiannya secara faktual. Akan tetapi penonton TV-RI tentu tidak merasa asing terhadap kisah film serial Star Trek yang memperlihatkan betapa seseorang manusia atau benda-benda lain dengan melalui suatu perangkat teknis dapat melebur ketika beranjak pergi kesuatu tempat. Kemudian dapat pula kembali mewujud (membenda) pada saat tiba di tempat tujuannya.

    Penutup

    Memang kisah ini merupakan “cerita-cerita khayali”, akan tetapi kisah ini sudah merupakan hipotesa di kalangan ilmiawan di Era Kekinian (Era Kontemporer). Mungkin dapat diingat betapa Jules Verne (1828-1905) pada pertengahan abad ke-19 itu telah berkhayal tentang kapal selam yang mampu mengharungi dasar laut, dan tentang kemampuan manusia terbang dengan pesawat angkasa ke bulan. Cuma lebih kurang satu abad saja lamanya, maka cerita khayali dari Jules Verne itu sudah merupakan kenyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran ilmiah oleh manusia. Kebenaran ilmiah itu tidak lain adalah pembuktian berdasarkan data-data riil, yakni peristiwa fisik yang mampu ditangkap oleh pancaindra secara langsung atau ditangkap oleh alat-alat yang mengulas kemampuan satu persatu indra tersebut.

    Inilah barangkali yang menjadi penyebab dalam salah satu ungkapan Eric J.Dingwall yang menjabat Direktur Seleksi Penelitian Fenomena Fisik dari lembaga “American Society for Psychical Research” yang melontarkan sebuah pertanyaan : “The Unknown, is it nearer” (Alam Gaib, apakah telah semakin dekat ?).

    Syukur kita sampaikan kepada Allah SWT., karena kita sebagai umat Islam pada awal abad ke-21 ini bukan lagi menangkap peristiwa Israk dan Mi’raj itu cuma melalui keimanan semata. Tetapi secara akal dan fakta telah menampakkan kesejajarannya dalam pembuktian saintific.

    Penulis : Akademisi, pendiri Grup Diskusi ALQURSIF (Al-Quran, Sunnah, Ilmu dan Filsafat), tinggal di Medan.

    This entry was posted in HIPOTETIKA, PROBLEMATIKA, RISET, TAFSIR, TELAAH HADITS and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

    One Response to TINJAUAN KEKINIAN TENTANG PERISTIWA ISRAK DAN MI’RAJ

    1. sugiarno says:

      Hmm, sebuah paparan yang teramat bagus. Pada akhirnya, kebenaran harus bisa membuktikan benar -nya. Salam kenal …

      ALQURAN: Insyaa Allah dan tiada hal yang perlu dikhawatirkan selagi berjalan di bawah bimbingan Al-qur’an dan Sunnah. Terimakasih

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s