KOMENTAR AL-QUR’AN TENTANG NERAKA DAN SURGA

Neraka itu di dalam Al-Qur’an biasa dipanggilkan dengan An-Naar (النـار = Api), Al-Jahim (الجحيم = Yang Menyala), Saqar (سـقر  = Sengatan panas) dan As-Sa’ir (السـعير = Yang Membakar).

Dengan memperhatikan istilah yang dipergunakan Al-Qur’an tentang neraka, maka jelaslah bahwa Neraka itu adalah sejenis “Api” dengan sifat “menyala” dan “membakar”, serta menimbulkan “sengatan panas” yang dirasakan oleh sesuatu apa pun yang disentuhnya. Di akhirat nanti neraka itu diperalat oleh Allah sebagai “Cemeti” (Azab) untuk orang-orang yang berdosa, sehingga Al-Qur’an biasa menyebutnya dengan “Cemeti Tekutuk” (‘Azabu Jahannam), dan terkadang menyebutnya dengan “Cemeti Yang Pedih” (‘Azabun Alim). Dan setiap orang yang dimasukkan ke dalamnya oleh Allah dinilai terjebak kepada “kecelakaan” (ويـل).

Oleh karena itu timbul soal : “Apakah sebenarnya Neraka itu ?, di manakah Api itu sekarang ? dan dapatkah kita menyaksikan Api tersebut sekarang ini ?”. Untuk menjawab soal di atas, maka sebagai pegangan pertama, mari direnungkan penegasan Al-Qur’an dalam 67 Al-Mulk : 5 sebagai berikut :

(Sebenarnya Kami telah menghiasi dunia antariksa itu dengan berbagai bola api (bintang-bintang) serta Kami jadikan bola api itu sebagai ramalan bagi setan-setan, dan Kami sediakan pula untuk mereka sebagai cemeti yang membakar).

Di dalam ayat tersebut telah ditegaskan bahwa bintang-bintang telah disiapkan dan difungsikan sebagai cemeti yang membakar. Dan apabila dikaitkan dengan QS. 6 Al-An’am : 112 bahwa yang dimaksud di situ adalah cemeti terhadap manusia dan jin yang durhaka.

Kemudian timbul hipotesa : “Jikalau Neraka itu berfungsi sebagai Azab As-Sa’ir (cemeti yang membakar), dan jikalau bintang-bintang itu ditegaskan pula sebagai cemeti yang mem-bakar (Azab As-Sa’ir) itu, maka bintang-bintang tersebut tidak lain adalah Neraka. Dengan be-gitu bahwa <span>Neraka tersebut sudah barang tentu telah ada di cakrawala yang luas ini dengan jumlah milyaran banyaknya</span>, <span>yakni sebanyak bintang-bintang di langit</span>”.

Perlu disadari bahwa di angkasa yang luas itu terdapat ribuan Tata Surya (The Solar System). Tata Surya kita ini saja tersusun dari sembilan buah planet yang mengorbit pada sebuah bintang. Bintang yang menjadi pusat orbit itu dikenal dengan “Matahari” (The Sun). Justru, jika <span>matahari</span> itu adalah salah satu <span>bintang</span>, maka <span>matahari</span> tersebut tidak lain adalah <span>neraka</span>. Hipotesa ini dikuatkan oleh Al-Qur’an sendiri dalam surah 40 Al-Mukmin : 46 sebagai berikut :

(Api itu dipajangkan kepada warga Pharao sejak pagi sampai sore saja, sedangkan setelah terjadi kehancuran alam, (dikatakan) : “Masukkanlah warga Pharao itu ke dalam cemeti yang dahsyat itu).

Akan tetapi dapatkah dibuktikan bahwa Matahari itu adalah Neraka yang dimaksudkan di dalam Al-Qur’an itu ? Dan bagaimana komentar Al-Qur’an ? Dan apakah dapat dibuktikan ketegasan tentang Neraka itu sepanjang pembuktian Science dalam hubungan konsepsi-konsepsi yang diuraikan oleh Al-Qur’an itu ?

Untuk menjawab pernyataan tersebut, mari kita renungkan isi kandungan Al-Qur’an dalam surah 102 Al-Takatsur : 5-8, yakni :

(Awaslah, seandainya kamu memahami Ilmu Al-Yaqin, sungguh kamu akan melihat Neraka itu. Kemudian kamu akan menyaksikan Neraka itu dengan ‘Ainu Al-Yaqin. Kemudian kamu akan dipertanyakan tentang Al-Na’im).

Di situ ada tiga problem yang perlu dipahamkan di dalam ayat tersebut :

  1. Ilmu Al-Yaqin.
  2. ‘Ainu Al-Yaqin.
  3. Al-Na’im.

Di bawah ini satu persatu dari kata-kata dalam ayat di atas akan diuraikan secara lafzhiah (ucapan per kata). Sedangkan kalimat yang digarisbawahi pada uraian berikut adalah merupakan inti makna dari ayat yang sedang dikaji, dan akan disalin secara tersendiri sebagai terjemahan yang resmi. Kini mari kita ikuti langkah-langkah ucapan per kata tersebut :

كـلا : Sekali-kali tidak.

Jadi yang dimaksud di situ adalah penekanan perhatian, yakni : <span>Awaslah</span>.

لـو                     : Jikalau

تعـلمون              : Mengetahui kamu

Yang dituju di situ adalah pengertian yang mapan, sehingga kalimat لو تعلمون

itu seharusnya diterjemahkan dengan “<span>Seandainya kamu memahami</span>”.

عـلـم                  : Akan pengetahuan.

Yakni pengetahuan yang didasarkan kepada rumus-rumus Saintific. Jadi kedudukannya sebagai <span>Ilmu</span>.

اليـقين                : Ketetapan, kemapanan.

Di situ dapat ditangkap bahwa sesuatu yang merupakan atauketetapan kemapanan tentu bersifat <span>pasti</span>,<span> </span>yakni sesuatu yang betul-betul diyakini keberadaannya sepanjang factual (data-data konkrit).

لـترون                : Sungguh akan melihat kamu.

Kalimat ayat itu terdiri dari Lam Taukid, Fi’il Mudhari’ dan Nun Taukid.

Sepanjang Gramatika Arab (Al-Qawa’id) bahwa Fi’il Mudhari’ yang dimasuki oleh Lam Taukid itu akan mendudukkan pengertian kerja tersebut “sedang berlaku” (Fi’il Mudhari’ lil Hal). Itu mengisyaratkan bahwa kali-mat ayat tersebut bermakna : <span>Maka sejak sekarang ini pun kamu akan dapat melihat</span>.

الجحـيم               : Yang menyala itu.

Kata tersebut diawali dengan alif dan lam ma’rifah. Menunjukkan bahwa yang menyala itu ditujukan kepada sesuatu yang menjadi obyek tertentu. Obyek tertentu itu ialah : <span>Neraka itu</span>.

ثـم                     : Kemudian.

Kata  ثـم  di situ mengisyaratkan jarak tempo, sehingga ia biasa diterjemahkan dengan : Nanti.

لـترون                : Sungguh akan melihat kamu.

Kalimat ayat ini bukan lagi menunjukkan sekarang seperti kalimat  لـترون  di

atas. Tetapi sekarang di situ adalah mengisahkan posisi ketika berada di akhirat nanti, karena sebelum kalimat ayat itu telah didahului oleh kata  ثـم (nanti).

Dengan begitu perpaduan kata  ثـم  dengan  لـترون  pada ayat itu melahirkan terjemahan : <span>Ketika itu pula nanti kamu akan melihat</span>.

هـا                    : Nya.

Kata ganti (dhamir) ini raji’nya adalah tertuju kepada kata  الجحيـم, yaitu :

<span>Neraka itu</span>.

عـين                  : Mata.

Bermakna : Dengan mata.

الـيقـين               : Pasti, yakni Dengan mata pasti atau <span>Melalui mata kepala ini</span>.

ثـم                     : Kemudian.

Yakni, karena peristiwa itu memang sudah terjadi di akhirat nanti, Maka kata ثـم    dalam ayat itu lebih praktis diterjemahkan dengan : <span>Setelah itu</span>.

لـتسـئلن              : Sungguh kamu akan ditanya.

Di situ kata “sungguhnya” mengisyaratkan makna : “Betul-betul”. Sedangkan kata “ditanya” mengisyaratkan pula makna : “diminta pertanggung jawaban”. Sehingga kalimat ayat itu bermaksud : Kepada kamu betul-betul diminta per-tanggung jawaban.

يومـئذ                 : Pada hari itu juga.

Sehingga kalimat “ لتسئـلن يومـئذ ” itu bermakna : <span>Yakni pada hari itu juga kepada kamu betul-betul diminta pertanggung jawaban</span>.

عـن                   : Dari.

Kata “ عـن “ adalalah menunjukkan  للمـجاوزة  (lewat, via). Justru yang dimaksudkan adalah pengertian : <span>tentang</span>.

الـنعـيم                : Nikmatnya.

Huruf “alif dan lam” dalam kalimat النعـيم itu adalah bersifat “ma’rifah” (menentukan). Dalam mempergunakan Bahasa Arab bahwa kaidah seperti ini biasa dipergunakan untuk menggantikan posisi dhamir (kata ganti) yang telah dihilangkan (الحـذف). Kalimat  النعـيم  itu pada mulanya berbunyi :  نعـيمهـا .

Dengan menghilangkan kata dhamir هـا itu, maka alif dan lam itu pun dipa-sangkan diawal kata  نعـيم . Dengan be gitu kata  النعـيم tersebut pada prinsipnya bermakna : <span>Nikmatnya</span><span> </span>(<span>neraka Al-Jahim</span><span> itu)</span>.

Dari makna mufradat yang telah diuraikan di atas, maka nampak dengan jelas makna yang yang tegas dari isi firman Allah QS. 102 At-Takatsur : 5-8 tersebut melalui kalimat-kalimat yang sengaja digarisbawahi itu sebagai inti makna yang hakiki dari ayat dimaksud sebagai berikut :

<span>Awaslah Seandainya kamu memahami Ilmu pasti, maka sejak Sekarang ini pun sungguh kamu akan dapat melihat Neraka itu</span>. <span>Ketika itu pula nanti sungguh kamu akan melihat Neraka itu melalui mata kepala ini</span>. <span> Setelah itu,</span> <span>yakni pada hari itu juga,</span> <span>kepada kamu betul-betul diminta pertanggung jawaban tentang Nikmatnya</span><span> </span>(<span>neraka Al-Jahim</span><span> itu</span>)”.

Di dalam ayat itu dengan tegas diungkapkan bahwa sejak sekarang ini pun kita telah dapat menyaksikan Neraka itu dengan perantaraan Ilmu Pasti. Baik melalui <span>keterangan Al-Quran</span> ataupun melalui <span>sabda-sabda nabi yang sahih</span> maupun melalui <span>data-data konkrit</span> sepanjang pembuktian ilmiah.

Al-Quran melukiskan alam neraka itu di dalam surah 77 Al-Mursalat : 32-33 bahwa alam neraka itu adalah sebuah bola api yang senantiasa aktif melakukan kegiatannya. Kegiatan itu berjalan secara aktif disebabkan bola api itu mengandung atom-atom yang beraktivitas, sehingga proses kimiawi di tubuh neraka itu tetap berfungsi.

Kegiatan aktivitas yang dilukiskan ayat 77:32-33 di atas berbunyi sbb. :

(Sebenarnya Neraka itu melambungkan percikan-percikan api seperti istana besarnya, seolah-olah percikan api yang dilabungkan itu iringan unta yang berwarna kuning).

Itulah kegiatan aktivitas neraka yang sangat mengerikan itu, di mana batu-batuan dalam ukuran besar itu dilambungkannya ke angkasa akibat ledakan-ledakan dahsyat yang terjadi di tubuh neraka itu sendiri. Jikalau neraka itu ternyata memang Matahari kita, apakah aktivitas serupa itu memang ditemui pula di sana ?

Teleskop raksasa sebagai perangkat Ilmu Pasti dalam penelitian alam matahari itu, ternyata telah membuktikan adanya semburan lidah-lidah api yang terlihat mencuat ke angkasa matahari yang diperkirakan sejauh lebih kurang 1000.000 mil setiap saat. Lidah-lidah api itu pada prinsipnya adalah batu-batuan raksasa di tubuh matahari yang dilambungkan ke angkasa akibat atom-atom aktif matahari sendiri telah melakukan kegiatannya.

Semburan-semburan lidah api itu menyebabkan terjadinya cahaya yang mengkilau di seputar matahari sebagai bola api itu, dan pada saat terjadinya gerhana total pada matahari, maka cahaya yang berkemilauan itu akan terlihat lebih jelas, dan di lingkungan para astronom amat popular dikenal dengan panggilan “Corona”.

Catatan penelitian ilmiah dalam bidang ini telah melukiskan, demikian The Home Library Encyclopedia, pada vol.I, p.103, mengungkapkan sbb. : “The streams penetrate the third layer of solar gases, called The Corona, and often fall back to the photosphere. The Corona is colorful halo that extends for almost 1000.000 miles into space. When it is visible during solar eclipses, the Corona takes on a green, yellow or pearly color”. (Ada suatu arus yang menembus lapisan gas yang ketiga pada matahari, dikenal dengan Corona, dan selalu kembali memantul kepermukaan photosfirnya. Corona itu suatu kilauan cahaya di seputar matahari yang merentang sejauh hampir 1000.000 mil ke angkasa matahari. Ketika kemilauan itu terlihat sepanjang gerhana matahari, maka Corona itu berbentuk seperti suatu arena berwarna kuning yang mengkilau).

Penemuan ilmiah sebagai pembuktian dalam Ilmu Pasti yang tercatat dalam kamus raksasa di atas, coba bandingkan dengan komentar Ilmu Pasti dalam keterangan Al-Quran 77:32-33 itu.

Kedudukan aktivitas matahari sebagai neraka yang dilukiskan oleh dua Ilmu Pasti (Al-Quran dan Encyclopedia) di atas, secara jeli pula pada lebih kurang 15 abad yang silam telah dikomentari oleh Nabi Muhammad saw yang tercatat sebagai sebuah hadits yang dipandang sahih, yakni setelah beliau merasakan situasi udara panas di alam sekitarnya.

Nabi Muhammad saw itu telah merumuskan sebuah hukum dengan memperbolehkan seseorang untuk menunda shalatnya apabila udara di sekitarnya terasa panas, dan memperboleh-kan untuk memulai shalat itu setelah udara terasa dingin. Suatu hal yang dapat dipastikan oleh Nabi Muhammad saw bahwa <span>udara panas itu tidak lain adalah uap neraka</span>.  Sabda beliau itu dicatatkan oleh seluruh perawi hadits dari “Al-Kutub Al-Tis’ah” yang bersumber dari Abu Hurairah dengan redaksi sedikit berbeda, tetapi maksudnya bersamaan (Al-Bukhari-502, Muslim-972, At-Tirmidzi-145, Al-Nisaai-496, Abu Daud-341, Ibnu Majah-669, Ahmad-7995, Malik-25 dan Al-Daarami-1181). Hadits berikut ini dipungutkan dari Kitab Shahih Al-Bukhari dari , hadits nomor 502, Nabi Muhammad saw bersabda sebagai berikut :

إذا اشـتد الحـر فأبردوا عن الـصلاة فإن شـدة الـحر من فيح جهـنم .

(Apabila udara terasa panas di sekitar mu, maka dinginkanlah terlebih dahulu baru shalat, karena sesungguhnya udara panas di sekitar mu itu adalah uap neraka).

Secara implicit kepada kita dipersilahkan untuk merenungkan sabda Nabi Muhammad saw tersebut untuk meraba pesan yang tergores pada matan sabda itu, di mana Ilmu Pasti bentuk ketiga ini telah membuktikan kepada kita bahwa “<span>matahari itu sebenarnya adalah neraka</span>”.

Ia adalah sebuah “bola api” (Al-Naar) yang bersifat “menyala dan membakar” (Al-Jahim dan Al-Sya’ir) yang merupakan fungsi dari aktivitas atom yang berproses secara kimiawi, sehingga menimbulkan rasa “sengatan panas”, di mana Al-Quran menyebutnya dengan istilah “Saqar”.

Justru neraka itu berfungsi sebagai cemeti (azab), dan di dalam Al-Quran surah 74 Al-Muddatstsir : 28 bahwa cemeti tersebut dilukiskan dengan kalimat “âxs? wur Å+ö7è? wu” (tidak merawat dan tidak menyelamatkan). Saqar (sengatan panas) itu di dalam pembuktian fisika dikenal dengan “sinar ultraviolet”, di mana sengatan tersebut akan dapat dibuktikan sebagai azab (cemeti) seandainya lapisan Ionosphere tidak dipersiapkan oleh Allah untuk menangkisnya.

Lapisan Ionosphere itu berada di seputar planet Bumi pada ketinggian lebih kurang 120 mil di angkasa yang terdiri dari atom-atom Ion. Proses kimiawi dari atom-atom Ion pada lapisan itu setelah mengalami benturan dengan Sinar Ultraviolet yang datang dari matahari, menyebabkan terjadi aktivitas Energi, sehingga Ionosphere sebagai penyaring sinar itu memantulkan sebahagian Energi ke angkasa, dan sebahagian diserap pada lapisan tersebut, sedangkan sebahagian lain disalurkan ke planet Bumi.

Dengan begitu Bumi cuma menerima sebahagian kecil dari Sinar Ultraviolet yang merupakan sengatan panas yang amat berbahaya itu, sehingga Ionosphere praktis berfungsi sebagai suatu bangunan yang kukuh, laksana atap penangkis panas di angkasa Bumi untuk melindungi manusia dari radiasi matahari yang membahayakan itu.

Posisi Ionosphere inilah yang ditegaskan Allah di dalam Al-Quran surah 2 Al-Baqarah : 22 dan 21 Al-Anbiyak : 32, sbb. :

{Yang menjadikan planet Bumi untuk kamu sebagai hamparan, sedangkan satu di antara Atmosphere itu (lapisan Ionosphere) sebagai bangunan}.

{Dan Kami jadikan satu di antara Atmosphere itu (lapisan Ionosphere) merupakan atap yang terpelihara}.

Di situ dapat dibayangkan betapa sengatan panas (Saqar) dari matahari itu akan mem-binasakan setiap sesuatu yang bertumbuh di Bumi, seandainya Ionosphere tidak difungsikan lagi. Dan <span>Saqar</span> sebagai sengatan panas matahari itu di lingkungan dunia astronomi dikenal dengan panggilan : Radiasi.

Radiasi itu timbul dari kegiatan aktivitas atom-atom di tubuh matahari. Kegiatan itu me-nimbulkan Energi Atom (The Atomic Energy) berbentuk radiasi, di mana fisika atom telah mem-buktikan tentang adanya sembilan belas tingkat energi atom.

Disebabkan itulah kesembilan belas tingkat energi ini menampilkan peranannya pada ra-diasi di tubuh neraka nanti yang informasinya dicatatkan oleh Allah dalam Al-Quran surah 74 Al-Muddatstsir : 26-30, berbunyi sbb. :

(Aku akan menghunjamkan dia ke dalam Saqar. Tahukah anda tentang Saqar itu. Ia tidak merawat dan tidak menyelamatkan. Amat jelas terhadap manusia. Komposisinya ada sembilan belas).

Di bawah ini kami akan menampilkan Tingkat Energi Atom sepanjang pembuktikan fisika itu, sebagai berikut :

TINGKATAN ENERGI ATOM

Dari uraian di atas tidak dapat diragukan lagi bahwa matahari itu adalah neraka yang dijanjikan di dalam Al-Quran, di mana surga tidak lain adalah antar planet dan bumi kita yang ada di solar system ini. Ketegasan untuk hal ini dapat disaksikan dalam QS. 3 Ali Imran : 133, yakni :

(Dan saling berpaculah kamu pada keampunan Tuhan, serta mendapatkan surga, di mana ba-ngunannya adalah antar planet dan bumi ini juga, disediakan untuk para muttaqin).

Penghuni surga sendiri pun ketika berada di dalam surga di akhirat kelak, telah mengakui dengan sejujurnya bahwa surga yang mereka tempati itu tidak lain adalah planet bumi ini. Ketegasan ini oleh Allah diungkapkan dalam QS. 39 Al-Zumar : 74 sbb. :

(Dan mereka berkata :”Puji-pujian bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kita, dan Dia telah mewariskan planet bumi itu kepada kita untuk ditempati di surga di mana saja kita sukai. Alangkah nikmatnya balasan untuk orang-orang berkarya”).

Dengan begitu, jikalau matahari itu adalah neraka, sedangkan  surga itu adalah antar planet yang mengorbit di sekitar matahari, maka dapatlah dipastikan bahwa alam baru di akhirat itu tidak lain adalah suatu tatanan solar system baru juga seperti solar system kita di dunia ini. Pertukaran solar system seperti itu ditegaskan pula oleh Allah dalam QS. 14 Ibrahim : 48, yakni :

(Pada hari akhirat nanti akan ditukar bumi itu dengan bumi baru, demikian pula antar planet lain-nya. Semuanya patuh kepada Allah Maha Tunggal, Maha Perkasa).

Pertukaran alam baru itu memakan kurun waktu yang amat panjang sekali, sama seperti proses terciptanya alam semesta pada periode pertama. Di dalam QS. 21 Al-Anbiyak : 104, ditegaskan lagi bahwa :

(Pada hari akhirat akan Kami gulung alam semesta itu seperti gulungan radiasi untuk berbagai dokumen. Sebagaimana Kami memulai awal penciptaan itu, akan Kami ulangi kembali. Ini merupakan janji atas Kami, bahwa Kami yang bekerja).

Tulisan ini adalah bahan ceramah saya yang disampaikan pada Pengajian Ba’da Zhuhur di Mesjid Taqwa UMSU, Sabtu – 28 Agustus 2010 (JS Manroe)

This entry was posted in RISET and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s